Hukuman Mati Menanti Pembunuhan JDS Jenazah Rosita Dikebumikan di Bolmut

Azis
Suasana prosesi pemakaman Rosita Hulalata di kampung halamannya di Desa Tombulang Pantai, Kecamatan Pinogaluman, Bolmut, Kamis (3/10/19). (Foto: Istimewa)
Suasana prosesi pemakaman Rosita Hulalata di kampung halamannya di Desa Tombulang Pantai, Kecamatan Pinogaluman, Bolmut, Kamis (3/10/19). (Foto: Istimewa)
Bagikan:

GORONTALO – Penyesalan selalu dibelakang , itulah yang dialami OT alias Oyong (32) suami tersangka kasus pembunuhan terhadap istri Rosita Hulalata alias Ita (24).

Pasalnya selain menghadapi ancaman seumur hidup menyusul fakta baru yang ditemukan polisi. Pria bekas penambang ini hanya bis mwratapi dari terali besi keberadaan kedua anak kembarnya yang masih kecil.

Kemudian diperhadapkan terancam hukuman mati. Hal ini menyusul temuan fakta baru dari kepolisian Polres Kota Gorontalo terhadap kasus pembunuhan yang terjadi di Salon Santi, Jl. Brigjen Piola Isa, Kelurahan Wongkaditi Barat, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo (02/10).

Sementara dari informasi yang dihimpun media ini awalnya Oyong diduga melakukan pembunuhan, sebagaimana diatur dalam Pasal 338 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Ancaman hukumannya pidana penjara paling lama 15 tahun.

Akan tetapi setelah ditemukan pemeriksaan intensif, Satuan Reskrim Polres Gorontalo Kota mendapatkan fakta yang mengarah pada pembunuhan berencana. Pria berusia 32 tahun itu pun dijerat dengan tuduhan pelanggaran Pasal 340 KUHP.

BACA  Wanita Korban Pembunuhan JDS  Diduga Berasal dari Sulut

Dengan jeratan hukum tersebut, Oyong terancam pidana hukuman mati, penjara seumur hidup, atau paling lama 20 tahun. Kapolres Gorontalo Kota, Kapolres Gorontalo Kota, AKBP Robin Lumban Raja, SIK,M.Si menjelaskan OT telah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Rita Hulalata.

OT dikenakan pasal berlapis. Yakni Pasal 340 KHUP tentang pembunuhan berencana jo Pasal pasal 338 ayat 1. “Dari hasil pemeriksaa, sudah membawa dari rumah 2 buah senjata tajam (sajam). Yaitu jenis badik dan pedang samurai berukuran pendek,” kata Robin Lumban Raja, Jumat (4/10/2019) di ruang kerja Kapolres Gorontalo Kota.

Menurut Robin Lumban Raja, kedua alat tersebut digunakan tersangka Oyong untuk menganiaya korban hingga meninggal dunia.“Korban mengalami luka sabetan di sebelah kiri dan di bagian kepala belakang sebelah kanan.

BACA  Densus 88 Tangkap Tujuh Terduga Teroris di Gorontalo

Luka diakibatkan terkena sayatan pedang samurai milik tersangka,” tutur mantan Kapolres Bone Bolango itu. Lebih lanjut, Robin Lumban Raja menjelaskan bila pihaknya sudah meminta keterangan pemilik salon. Hal itu dilakukan berkaitan pernyataan tersangka yang meminta korban tidak lagi bekerja di salon tersebut.

Alasannya, di salon tersebut ada pekerjaan lebih, selain menata kecantikan. Pekerjaan lebih tersebut yang dinilai oleh tersangka tidak baik. “Saya menanyakan langsung kepada pemilik salon, statusnya korban tidak bekerja di situ.

Jadi pas hari itu saja, korban datang kemudian menyampaikan kepada pemilik salon bahwa nanti akan ada laki-laki akan datang tidak lain suaminya,” ujar Robin Lumban Raja. Kapolres Gorontalo Kota menambahkan saat korban seorang diri di dalam kamar, tersangka datang.

Setelah kurang lebih 3 menit berbincang, keduanya terlibat cekcok. Saat itu terjadi penganiayaan, kemudian tersangka keluar meninggalkan korban.“Korban saat itu dalam keadaan luka berat berupaya menarik-menarik ikat pinggang tersangka agar tak melarikan diri.

BACA  Oknum Honorer Bone Bolango Gorontalo Desakan Ekonomi Curi HP Terancam 5 Tahun

Tersangka lalu meninggalkan lokasi, korban berusaha meminta tololong kepada salah satu saksi penjual martabak yang berada di lokasi salon tersebut,” urainya. Sementara itu setelah beberapa saat berada di Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS), Kota Gorontalo. Jenazah Rosita Hulalata, perempuan berusia 24 tahun itu dikebumikan di kampung halamannya.

Yaitu Desa Tombulang Pantai, Kecamatan Pinogaluman, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara (Sulut). Prosesi pemakaman berlangsung, Kamis (3/10/2019) pukul 15.30 WITA. Atau selepas salat Ashar.

Prosesi pemakaman ibu yang memiliki bayi kembar itu diliputi suasana sedih. Para keluarga dan kerabat sangat terpukul atas kepergian perempuan yang akrab disapa Ita itu. Apalagi, sosok yang tega menghabisi nyawanya adalah sang suami, OT alias Oyong. Informasi lain yang diperoleh Ita merupakan anak ke-6 dari 8 bersaudara. (BC-AM)

Tag: , , , ,
Next Post

Inovasi Harus Berdampak Ke Ekonomi Desa

Sekprov : Dana jangan hanya habis di fisik PALU – Inovasi tidak melulu seputar penemuan teknologi baru untuk diterapkan membangun desa tapi bisa berupa praktik pengelolaan yang kian efektif dari waktu ke waktu. BACA  Cabe Rawit Mahal Kini Dijual per Biji di Gorontalo, Heboh di Media Sosial
Sekprov Sulawesi Tengah bersama kades dan pendamping desa (Foto: Humas)