Mangkraknya Jembatan Torate Donggala, Kapala Satker Jadi Tersangka Baru

Azis
Proyek pembangunan jembatan Torate Cs di Kabupaten Donggala yang dikerjakan Tahun 2018 hingga kini mangkrak. Kejati Sulteng telah menetapkan sejumlah tersangka dugaan korupsi pembangunan ini(JS)
Bagikan:

PALU – Dipenghujung tahun 2019, kasus dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor), mangkraknya Jembatan Torate Cs di Kabupaten Donggala yang dikerjakan Tahun 2018 terus bergulir.

Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) telah menetapkan dua tersangka baru, yakni Rahmudin selaku Kepala Satuan Kerja (Kasatker)  Proyek Jembatan Torate.

Dan Kristian suami dari Sherly, Kuasa Direktur PT Mitra Aiyangga Nusantara, yang sebelumnya sudah jadi tersangka dan ditahan bersama tiga tersangka lainnya.

Kepala Kejati Sulteng Gerry Yasid mengungkapkan, dengan adanya tersangka baru ini. Maka Kejati Sulteng telah menetapkan enam  tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan jembatan yang dibiayai APBN 2018 senilai Rp 14,9 miliar itu.

BACA  Penyidik Kejati Sulteng Tahan Kepala KUPP Bunta

“Tersangka dugaan korupsi proyek jembatan ini jadi enam orang,” tegas Gerry Yasid saat menggelar rilis akhir tahun, di Kantor Kejati Sulteng, seperti dilansir Sultengterkini kemarin (31/12/19).

Gerry menambahkan, kedua tersangka baru tersebut belum ditahan dan penyidik masih melakukan pendalaman.

“Masih akan kami dalami lagi,” jelas Gerry yang didampingi Aspidsus Kejati Sulteng, Tofan. Kemudian Asintel Kejati Sulteng, Rachmat Supriyadi, Asisten Pengawasan, Teuku Muzafar,  Aspidum Kejati Sulteng, Izamzan.

Dan Asisten Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Asdatun) Kejati Sulteng, Burhan serta Kasi Penkum Kejati Sulteng, Sainudin.

Kasus Korupsi di Dinas Bina Marga Sulteng

Adapun sebelumnya, Kejati Sulteng telah menetapkan dan menahan empat tersangka yakni, Alirman selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

BACA  Kejati Sulteng Umumkan, Tiga Tersangka Kasus Suap Jembatan Palu 4

Kemudian Serly selaku Kuasa Direktur PT Mitra Aiyangga Nusantara, Moh. Masnur selaku Direktur PT Mitra Aiyangga dan Ngo Joni  selaku konsultan pengawas.

Kasus ini terjadi pada tahun 2018, di mana Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Wilayah Sulawesi Tengah.  Melaksanakan pekerjaan pengganti Jembatan Torate dengan Pagu anggaran Rp 18 miliar yang bersumber dari APBN.

Pemenang lelang pekerjaan Jembatan Torate adalah PT Mitra Aiyangga Nusantara dengan nilai kontrak Rp 14, 9 miliar.

Sementara masa kerja kontrak dimulai 4 April – 5 November 2018 atau 210 hari kerja. Pekerjaan ini dilaksanakan oleh Serly selaku kuasa  Direktur PT PT Mitra Aiyangga Nusantara.

BACA  KPK Bantu Kejati Sulteng, Tangkap CAP DPO Korupsi

Pekerjaan tersebut kemudian terhenti dan diambilalih oleh Moh. Masnur untuk melanjutkan progress yang ada. Kontrak berakhir pada tanggal 5 November 2018 namun pekerjaan tidak selesai karena tidak dilaksanakan sesuai jadwal.

Pada tanggal 21 Desember 2018, dibuatlah berita acara pemeriksaan yang ditandatangani Alirman selaku PPK. Serta Ngo Joni selaku konsultan pengawas dan diduga telah merekayasa pekerjaan tersebut jika realisasi pekerjaan telah mencapai 28,5 persen.

Padahal faktanya tidak sesuai kondisi di lapangan. Sehingga, perbuatan para tersangka diduga telah menyebabkan kerugian  negara sebesar Rp 2,8 miliar. BC-AM).

Tag: , , ,
Next Post

Harga Rokok Resmi Naik, Rata-rata 35 Persen

JAKARTA- Akhirnya Pemerintah resmi menaikkan tarif cukai rokok rata-rata sebesar 23 persen mulai kemarin (1/1). Sementara harga eceran terendah rokok juga naik rata-rata sebesar 35 persen. Hal ini berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152 Tahun 2019.  Tentang tarif cukai hasil tembakau. Keputusan tersebut mulai berlaku  1 Januari 2020. Kenaikan […]