Keluarga Klaim Almarhum Qidam Bukan Teroris, Dia Ditembak dan Dianiaya

Azis
SEMASA HIDUP : Almarhum Qidam Alfarizki Mofance, yang tewas ditembak beberapa waktu lalu di Poso Pesisir Utara. (FOTO : DOK Radar Sulteng).
Bagikan:

PALU – Pihak keluarga Qidam Alfariski Mofance (20), membantah seluruh keterangan polisi. Yang menyebut almarhum merupakan anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Keluarga almarhum pun sangat keberatan. Dan akan menuntut Polda Sulteng yang telah menyebabkan tewasnya Qidam Alfariski.

Bahkan akun facebook Inyo yang mengaku orang tua korban membantah keterangan Polisi. Dan memberikan klarifikasi  jika saat itu anaknya dalam perjalan ke Tambarana. Sehingga Ia meminta pelaku harus bertanggung jawab. Karena pihak keluarga tidak terima dengan kejadian ini.

Paman Korban Ungkap Kronologis

Selanjutnya dikutif dari Radar Sulteng, paman korban Asman Nusra menjelaskan secara langsung kronologis. Hingga keponakannya tersebut meregang nyawa. Asman mengungkapkan, sehari-harinya almarhum bekerja di SPBU Tambarana.

Peristiwa ini sendiri bermula pada Kamis 9 April, 2020. Ketika itu almarhum masih membantu Asman di somel miliknya. Dari pagi hingga sore. Usai membantu Asman, Qidam pulang ke rumah Neneknya. Setiba di rumah Neneknya tersebut. Qidam dilarang kembali keluar, karena mewabahnya virus corona.

“Dia dari kecil sudah tinggal sama neneknya, karena mamanya ada di Manado. Namun saat ditegur, korban tetap keluar dan main ke rumah temannya yang tidak jauh dari rumah neneknya, dengan membawa tas kecil,” jelas Asman, Sabtu (11/4).

BACA  Satu Bawa Pisau, Lima Mahasiswa Diamankan

Setelah mendapatkan kabar korban keluar rumah, Asman berusaha mencari korban, sekitar pukul 19.30 wita, mengetahui bahwa korban berada di rumah keluargannya yang lain, di Desa Tobe.

Ia akhirnya memutuskan untuk menjemput korban sekitar pukul 22.00. “Namun sudah tidak ada dia (korban) di situ, karena takut saya mau jemput,” terangnya.

Korban masih sempat makan di rumah keluarganya tersebut. Kata Asman, larinya korban, di situlah bertemu dengan masyarakat dan ditahan ditanyakan asal korban, korban sempat menjawab dari Tambarana.

Saat minta air minum ke warga yang menahannya, korban sempat diminta untuk tidak lari ke arah dekat Polsek. “Warga menelpon Polmas setempat, akan tetapi yang datang dari aparat kepolisian di Polsek Poso Pesisir. Dan tidak ada dari Polmas, di situ korban langsung dikejar dan ditembak. Tidak ada itu kontak tembak,” tegas Asman.

Dirinya memastikan, karena ia mendengarkan tembakan pertama. Sebab rumah yang masih kena keluarganya itu hanya berjarak 1 Kilometer dari TKP. Ada satu jam lebih suara ledakan senjata, dan berulang kali, jadi seolah-olah itu adalah kontak tembak.

“Bukan kontak, masih saya dengar karena saya masih di rumah keluarga ini. Karena hanya berjarak 1 kilometer. Kajadiannya itu di pukul 23.00, lama suara tembakan itu satu jam setengah,” terang Asman.

BACA  Insiden 500 Penambang Ilegal Serang Kantor Tambang Emas Poboya, Ditangani Polda Sulteng

Dan dia memastikan korban dianiya, karena habis ditembak, dan ada luka robek akibat sangkur. Kemudian korban diseret sepanjang 100 meter . “Ada bekas diseret sekitar 100 meter lebih, dan ada korban yang menyaksikan di situ saat kejadian. Warga sudah banyak di sekitar kejadian,” ujarnya.

Minta Kasusnya Diusut Secara Hukum

Seharusnya kepolisian bisa lebih dahulu menanyakan korban, tidak langsung ambil tindakan. Baru kepolisian menyebutkan kontak, padahal tidak ada kontak.

“Kalau memang teroris, kenapa tidak saat bertugas di SPBU ditangkap. Dan sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari kepolisian ke keluarga. Bahkan jenzah korban sempat dibawa ke Palu dan disembunyikan, baru diserahkan ke keluarga,” ucap Asman.

Dia meminta agar kasus ini bisa diusut dengan secara hukum. Karena jelas kasus ini adalah murni penganiyaan yang dilakukan oknum aparat. “Tetap pihak keluarga minta ini diusut siapa yang melakukan penganiyaan,” tutup Asman.

Sementara itu, perwakilan pihak keluarga, Irsad Amir. Juga menyayangkan pernyataan dari Kabid Humas Polda Sulteng. Yang dinilai terlalu cepat menyimpulkan bahwa almarhum adalah anggota kelompok MIT pimpinan Ali Kalora. “Adik kami ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan teroris atau kelompok Ali Kalora,” tegasnya.

BACA  Gembong Narkoba Buronan Polda Sulteng di Tangkap, Coba Suap Imigrasi Sodorkan Buku Rekening

Dia pun menyatakan, bahwa keluarga sangat keberatan bila almarhum disangkut pautkan dengan teroris atau kelompok sipil bersenjata.

Irsad juga meminta agar kasus kematian Qidam ini diproses secara hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. “Kami juga akan langsung ke Polda untuk menuntut kematian juga perntaan dari Kabid Humas Polda ini,” jelas Irsad.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Didik Supranoto, mengatakan, bahwa polisi menerima informasi dari warga bahwa ada salah satu orang tidak dikenal yang bergabung dengan kelompok terorisme Poso yang masih dalam pengejaran turun ke rumah warga.

Sehingga di situlah terjadi kontak tembak. “Saat dilakukan pengejaran, dan terjadi kontak tembak dan akhirnya sasaran terkena tembak. Jelasnya ada perlawanan, kan ada kontak tembak,” katanya, Jumat (10/4).

Didik menegaskan, informasi Satgas Tinombala, dan warga yang tertembak itu sudah bergabung dengan dengan kelompok sipil bersenjata, saat turun gunung dan mendatangi rumah warga.

Juru bicara Polda Sulteng ini, juga menyebut bahwa keluarga sudah menerima atau mengetahui kejadiannya, karena jenazah sudah di pihak keluarga.

”Yang jelas dia ini (OTK) masuk dalam Kelompok sipil bersenjata yang diatas, namun belum masuk dalam daftar DPO,” tuturnya. (Rdr/BC-AM).

Tag: , , , ,
Next Post

Positif Corona, Bertambah 5, Sulteng Melonjak 19 Orang

PALU– Pasien positif corona di Sulawesi Tengah (Sulteng) terus bertambah. Jika pada hari kemarin hanya 14 orang maka sesuai data Pusdatina hari ini Sabtu (11/04/2020). Bertambah 5 pasien positif. Sehingga totalnya mencapai 19 orang. Dengan hasil ini, maka Sulteng kembali melewati Provinsi Sulut dengan angka positif corona lebih banyak . […]